Siap Nikah
created on 2012-01-30, 11:20
Topik ini selalu hangat jadi bahan perbincangan warung kopi hingga diskusi berkelas seminar. Ada yang bosan atau mencoba menghindar bila mendengar topik ini dibicarakan. Ada juga yang antusias dengan segala tip dan trik.
Nikah, menikah, pernikahan, kawin, perkawinan, merit, marriage, marry atau apapun itu sebutannya yang pada intinya adalah ikatan dua manusia berbeda jenis kelamin.
Ya, beda jenis kelamin.. Jika tidak beda, maka konteks serta kerumitannya pasti tidak sama.
Cukup untuk definisi tentang nikah, sudah banyak kamus yang membahas.
Tapi untuk menghadapi frase atau kalimat seperti “Apa kamu sudah SIAP NIKAH?”, “Aku SIAP MENIKAHIMU.”, “Bagaimana dengan PERSIAPAN PERNIKAHAN?”; setiap pribadi akan memberi tanggapan yang berbeda.
Seorang gadis desa ketika ditanya “Kamu sudah siap nikah?”, maka yang terlintas di benaknya adalah beberapa pekerjaan rumah tangga yang menantinya; masak, cuci, setrika, ngurus suami dan anak, begitu seterusnya. Dan itu pula yang diajarkan orang tua kepada anak gadisnya agar belajar mengenai beberapa tugas yang umumnya dilakukan ibu rumah tangga.
Begitu pula jejaka, yang terpikirkan adalah bagaimana bekerja, menafkahi, memberi makan anggota keluarganya.
Bagi yang telah lama pacaran dan sudah berencana untuk menikah, maka frase ‘siap nikah’ punya makna secara psikis yaitu kejiwaan calon mempelai, atau berupa ‘persiapan seremonial pernikahan’.
Dari mas kawin, pernak-pernik resepsi: suvenir, baju, tukang foto, pre wedding, gedung, undangan, catering; administrasi – surat keterangan, penghulu, seminar; hingga honeymoon.
Ada yang menikah dengan persiapan hingga mendeklarasikan dirinya siap nikah, namun ada pula yang menikah karena ‘kebelet nikah’. Kebelet atau benar-benar sangat ingin ini membuat makna ‘siap nikah’ menjadi kabur.
Selain itu ada istilah ‘kepepet nikah’ alias terpaksa; entah karena sudah berumur atau karena dipaksa menikah oleh beberapa pihak, atau terpaksa menikahi karena kasus hubungan pranikah. Hal ini juga berdampak pada arti frase ‘siap nikah’.
Kedua istilah ini, kepepet dan kebelet, mengakibatkan orang bisa memasuki tahapan ‘siap nikah’ seketika.
Jadi apa maksud dari frase ‘siap nikah’ itu sebenarnya?
Atas dasar ‘cinta’, dua insan ingin melanggengkannya dalam suatu ikatan, bersama berdua, bahkan kalau bisa sehidup semati. Iya, sampai mati.
Jadi berapa lamakah itu, dari akad nikah sampai mati? Setahun? 5 tahun? 10? 20? 30 tahun? Tak ada yang tahu.
Pertanyaan selanjutnya adalah, dengan rentang waktu selama itu, siapkah menghadapi berbagai kondisi ataupun permasalahan yang mungkin terjadi?
Waktu 30 tahun bukan waktu yang sebentar. Separuh hidup untuk bersama dalam sebuah bahtera rumah tangga.
Jangankan 30 tahun, masa 5 tahun atau bahkan setahun, sepasang suami istri bisa mengalami banyak lika-liku percintaan dan cobaan berumah tangga.
Dari hal yang sepele seperti kebiasaan atau sifat yang berbeda, rasa cinta yang mulai mendatar, masalah keuangan, pendidikan anak, dan problematika lain yang datang menerpa silih berganti dan terkadang kian menumpuk tiada habisnya.
Banyak pernikahan langgeng yang berhasil, namun tidak sedikit pula yang ‘berhasil’. Untuk kategori yang kedua ini, tidak banyak yang memberikan testimonial, namun kenyataan di lapangan sering terjadi yang demikian.
Ada pasangan yang tidak cocok lalu berani mengambil sikap untuk bercerai. Hanya saja tak sedikit yang memendamnya atau bertahan dengan berbagai alasan. Yang paling klasik adalah karena masa depan anak-anak mereka. Hal lain misalnya alasan ekonomi, martabat, ego, malu kepada saudara/teman/masyarakat.
Jika telah demikian, apakah itu bisa disebut dengan kebahagiaan dalam pernikahan?
Kesannya memang menikah itu mengerikan. Tak seperti yang dibayangkan bahwa ‘dunia milik berdua’, bahagia bersama selamanya, happily ever after.
Semua menginginkan pernikahan yang sempurna.
Padahal dua insan yang ‘perfect’ atau ‘perfectly match’ pun belum tentu memiliki ‘perfect marriage’.
Lalu apabila realita nanti tidak seindah angan-angan, apakah tidak usah menikah saja? Atau kumpul kebo saja?
Tidak. Bukan itu.
Untuk itu perlu kedewasaan dalam berpikir, dalam berperasaan, dalam bersikap.
Menikah bukan atas dasar nafsu atau cinta belaka.
Luruskan kembali tujuan pernikahan, karena menikah bukan sekedar mencari pasangan yang dicinta untuk hidup bersama.
Marriage is not about to live with someone you love nor together with somebody you can’t live without.
Jadi, sudah siap nikah??
January 30th, 2012 on 22:53
Siap menikah karena Allah SWT, jd ketika menghadapi cobaan dlm berumah tangga selalu dikembalikan lg pada tujuan menikah tadi.
InsyaAllah kehidupan rumah tangga akan sakinah, mawaddah warahmah jika tujuannya untuk mencapai ridho Allah dan menyempurnakan ibadah.
Apakah A sdh siap menikah?
January 31st, 2012 on 13:44
itu pertanyaan buat diri sendiri ya mas?
February 22nd, 2012 on 17:19
ih baru liat blog ini dan baca topik ini… Gak dimana gak dimana, Aby gak pernah bales komen orang ya? sayang banget padahal bales komen itu bentuk penghargaan dari orang yang meluangkan waktu buat mengapresiasi hasil tulisan kamu… OOT
Jadi ceritanya, dari curcol terselubung di topik “siap nikah?” ini, Aby mau menceritakan kalau Aby itu udah siap nikah 100 % tapi masih dalam tahap meluruskan niat. *sotoy*